Problematika Sains, Teknologi dan Seni pada Industri Revolusi 4.0
oleh Ananda Stephanca
Pendahuluan
Dalam kehidupan manusia yang sudah mengalami berbagai peradaban ini, terus terjadi yang namanya perubahan atau revolusi.
Tak terkecuali revolusi dalam bidang industrial.
Revolusi industri terjadi pertama kali pada tahun 1784, dimana beragam investasi dalam bidang uap, listrik dan mekanisasi mulai mempermudah bahkan menggantikan pekerjaan manusia.
Hingga sekarang, muncul istilah “Industri 4.0” sebagai tanda perubahan revolusi industri yang ke-4, dimulai pada tahun 2.015.
Namun tidak semua perubahan itu merupakan kemajuan positif, revolusi-revolusi ini tak luput juga oleh perubahan berdampak negatif yang “menyerang” 3 aspek penting dalam generasi milenial ini, yakni Sains, IPTEK dan Seni.
Isi
Problematika Sains
Sebelum ditemukannya mikroskop, laboratorium, atau bahkan ide-ide peralatan meneliti futuristik milik para peneliti yang sering kita lihat di film science fiction, kinerja sains masih menggunakan alat-alat sederhana. Contohnya seperti sains dalam bidang kesehatan pada abad pertengahan yang masih menggunakan kertas dan ulekan dalam membuat obat-obatan herbal/alamiah. Bentuk signifikan yang dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari pada bidang ini adalah penemuan-penemuan yang mengubah gaya hidup yang dampak negatifnya terlambat atau belum disadari.
Contoh: Terdapat penemuan rumah kaca yang dimanfaatkan untuk menjaga tanaman dari berbagai ancaman luar seperti angin kencang tanpa menghalangi cahaya sinar matahari. Adapun penemuan alat penyejuk ruangan, Air Conditioner (AC). Namun efek negatifnya adalah sinar matahari memantul kembali ke langit yang menyebabkan pengikisan lapisan ozon dan pemanasan global untuk rumah kaca serta Vreon dalam AC yang juga menyebabkan global warming.
Untuk solusi dalam contoh problematika di atas, yakni tentunya dengan mengurangi penggunaan rumah kaca yang berlebihan. Ada baiknya juga lebih baik menggunakan kipas angin yang lebih ramah lingkungan daripada AC yang kalau terlalu lama digunakan juga malah bisa membuat orang-orang sekitar merinding kedinginan
Problematika Teknologi
Istilah “teknologi” sendiri sudah ada sejak zaman dahulu dan sebetulnya teknologi tidak hanya dipakai untuk menggambarkan segalanya yang berhubungan dengan mesin. Dari ketiga topik problematika di atas, teknologi merupakan contoh yang paling jelas terlihat dewasa ini. Bahkan teknologilah merupakan faktor utama yang menyebabkan “Pengangguran/PHK masa” dalam era industrial pertama.
Contoh: Perubahan teknologi yang menuntut masyarakat mau tidak mau harus mengikuti perkembangan teknologi. Golongan masyarakat lama seperti guru-guru yang sudah berusia diharuskan mengisi rapor dengan website, begitu juga dengan golongan kaum muda yang diwajibkan memegang gawai atau alat komunikasi pintar yang bisa memakai WA. Padahal tidak semua orang tua cepat mengikuti perkembangan kecanggihan zaman dan masih ada pula anak muda yang tertinggal zaman atau gagap teknologi/gaptek (seperti saya). Ketergantungan pada mesin juga membuat manusia terlalu “disibukkan” dan menimbulkan kecemasan berlebih yang tidak penting ketika lupa membawa gadget.
Penanggulangan yang bisa dilakukan tentunya bukan dengan membatasi kecepatan perkembangan zaman karena itu mustahil diterapkan. Salah satu solusi adalah meningkatkan pengetahuan dan kemampuan kita dalam memanfaatkan teknologi yang juga termasuk kebijakan dalam memakai alat elektronik, seperti mempelajari teknologi dan memakainya dalam keadaan yang diperlukan saja. Pada dasarnya manusia bukanlah mahluk yang sepenuhnya bergantung pada teknologi.
Problematika Seni
Seni merupakan warisaan budaya yang menandakan bahwa suatu budaya ada karena seni tersebut. Seni berhubungan dengan faktor intim manusia seperti personalitas dan kejiwaan, revolusi industri mampu mengubah perkembangan ini. Di zaman Industri Revolusi 4.0, seni dan budaya modern cepat diserap bahkan mempengaruhi keadaan masyarakat sekarang.
Contoh: Munculnya budaya-budaya barat yang meski terlihat kekinian dan seru, bentuk seni ini bisa melenyapkan seni-seni tradisional yang merupakan peninggalan sejarah. Budaya barat ini juga melahirkan istilah “westernisasi” yang membuat penggemarnya sepenuhnya meniru tata sikap dan perilaku budaya barat, termasuk sisi negatifnya yang cenderung vulgar dan kasar.
Solusi yang terlintas di benak pikiran orang-orang pastinya adalah pelestarian budaya tradisional. Namun perlu diingat juga bahwa penikmat budaya luar harus mampu menyaring apa yang mereka serap dari budaya tersebut. Untuk orang Indonesia, ingatlah bahwa kalian berasal dari Tanah Air yang sudah diperjuangkan oleh para pahlawan selama ratusan tahun, pelestarian budaya dapat dilakukan dalam hal yang sederhana seperti menggenakan batik Indonesia yang keren-keren dan menonton seni-seni nya yang tak kalah menarik.
Pendahuluan
Memang tidak mungkin dipungkiri bahwa perkembangan/revolusi akrab dengan berlomba-lombanya peradaban untuk mengadakan penemuan-penemuan canggih.
Sains, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta Seni merupakan tiga pokok yang paling jelas terkena dampak-dampak perubahan tersebut.
Tentunya inovasi teknologi yang marak terjadi ini dilakukan dengan harapan dan tujuan yang baik yakni sebagai membantu keseharian manusia, meningkatkan mutu pendidikan, sebagai media hiburan.
Tetapi semuanya bergantung pada yang memanfaatkan perubahan-perubahan ini karena alih-alih bertujuan seperti yang sudah dijelaskan di atas, bisa jadi Indistri Revolusi 4.0 malah mengontrol keseharian, menyalahgunakan pengetahuan teknologi, bahkan dijadikan media ketergantungan.
Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa perubahan-perubahan sain, IPTEK dan seni memiliki dampak-dampak yang notabene bergantung pada pelopor dan penggunanya. Yang berarti, sudut pandang yang benar serta kebijakan yang tepat sangatlah krusial dalam berkehidupan dalam zaman ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar