Junita Kurniawati
5A
Pend. Bahasa Jepang
MANUSIA DAN LINGKUNGAN
PENDAHULUAN
Ketika manusia lahir saat itulah untuk pertama kalinya ia berkenalan dengan dunia luar yang akan menjadi lingkungan bagi dirinya. Ketergantungan manusia terhadap lingkungannya memulai kisahnya saat itu. Pena memang telah tergoreskan, tidak bisa tidak. Jika manusia ingin berhenti dan memutus rantai ketergantungannya terhadap lingkungan maka sesungguhnya ia perlu mati. Tetapi sebenarnya hubungan antara manusia dengan lingkungannya adalah suatu interaksi, jadi jelas sudah bersifat dua arah. Bahkan ketika lingkungan atau alam harus hancur karena manusia makadi sisi lain manusiapun tidak bisa memungkiri betapa semakin tertatihnya ia hidup tanpa alam. Perjalanan hubungan manusia dan alam ini tak ubahnya potret hitam putih. Betapapun indahnya, ironi yang diperlihatkan secara nyata terlalu pahit untuk diingkari. Proses pembelajaran bagaimana seharusnya hidup berdampingan dengan alam membuat manusia dapat meningkatkan kualitas hidupnya karena dengan hal itu manusia dapat mengendalikan rasa takut dan menciptakan kebahagiaan (Franken, 2002). Salah satu hal yang menarik untuk diketahui adalah bahwa manusia sebagai individu ternyata bisa menjalin hubungan kasat mata yang harmoni dengan lingkungan sekitar. Meskipun pada dasarnya setiap manusia memiliki kepribadian yang berbeda-beda, namun tanpa disadari kecintaan dan bahkan ketergantungan mereka terhadap lingkungan memposisikan mereka menjadi individu yang agak berbeda satu dengan yang lain dan secara jelas semakin memantapkan keberadaan perbedaan individu (individual differences).
ISI
Manusia dapat pula mempengaruhi alam sebagaimana alam mempengaruhi manusia. Ketika alam membentuk perilaku manusia maka manusiapun dapat membentuk perilaku alam di luar konteks kebiasaannya (Bell, Fisher, Baum &Greene, 1996). Manusia dengan segala perilakunya merusak alam dan menciptakan banjir di lingkungan tempat tinggalnya dan secara sebaliknya banjir yang rutin terjadi membentuk perilaku yang khas dari mereka yang tinggal di kawasan tersebut dibandingkan mereka yang tinggal di kawasan bebas banjir. Dunia global saat ini sedang dihadapkan pada satu persoalan serius yang menentukan keberlangsungan hidup umat manusia dan alam semesta, yakni krisis lingkungan. Kesadaran akan ancaman ini mulai tampak di awal 1970-an sebagai respon atas berbagai bencana lingkungan yang terjadi pada dekade sebelumnya, seperti pencemaran air, udara, dan tanah.1 Untuk Indonesia saja, kita bisa menyebut bagaimana bencana demi bencana dialami, mulai dari gempa yang mengakibatkan gelombang tsunami di provinsi Nangroe Aceh Darussalam yang tidak hanya merenggut nyawa manusia-manausia yang tak berdosa, tetapi peradaban dengan segala aspeknya ikut pula hanyut bersama aliran air bah tersebut, ditambah pula dengan musibah banjir dan tanah longsor di Pacet dan Jember Jawa Timur, gempa di Pulau Nias dan Nabire. Tak lama setelah itu berbagai bencana banjir yang melanda ibu kota dan kota-kota sekitar juga merupakan tergolong bencana yang memberikan dampak amat signifikan bagi masyarakat korban bencana. Belum lagi gempa yang mengguncang sebagian kota di Jawa Barat, banjir yang melanda Jawa Tengah dan sederatan daftar musibah yang melanda Indonesia.
Berbagai perspektif digunakan untuk mencari akar persoalan beserta pemecahannya. Agama dan filsafat, di antaranya, dipandang punya andil besar dalam membentuk berbagai pandangan tentang penciptaan alam dan juga peran manusia di dalamnya.2 Pandangan dunia macam ini sangat memengaruhi bagaimana manusia memperlakukan alam sekitarnya. Di kalangan agamawan, kepedulian akan lingkungan dianggap baru muncul pada dekade 1970-an sebagai akibat dari tumbuhnya kesadaran umum ekologi tahun 1960-an,3 tepatnya ketika artikel karya Lynn White, Jr. dipublikasikan lewat jurnal Science tahun 1967. Di dalamnya ditegaskan bahwa persoalan lingkungan global berakar dari keyakinan agama.
Di sisi lain sebenarnya banyak yang bisa diberikan manusia kepada alam dan lingkungannya. Setidaknya ada sebuah sisi yang seharusnya dipahami manusia bahwa alam memiliki karakteristik yang berbeda dengan teknologi. Jika teknologi dapat dikembangkan untuk membantuk kegiatan manusia maka alam sesungguhnya tidak perlu dikembangkan karena ia sudah dan akan selalu memberi banyak hal kepada manusia. Hanya saja alam perlu dijaga dan dirawat (maintenance) karena kerusakan pada alam akan memberi akibat dan konsekuensi yang berkepanjangan dalam hidup manusia (Veitch & Arkkelin, 1995).
SIMPULAN
Semakin lama manusia seperti mengeksplorasi alam terlalu berlebihan dalam konteks tidak ada imbalan sepantasnya di terima alam. Hubungan yang ada bukan lagi bersifat menguntungkan tetapi manusia sudah seperti dewa yang menguasai segalanya di bumi ini. Mata rantai ini – entah bagaimana caranya dan sulitnya – harus coba untuk diputus. Jika tidak, pada saat alam dan lingkungan sudah menjadi sangat terusik mereka akan melakukan protes dengan caranya sendiri melalui serangkaian bencana alam yang jelas tidak mungkin dikendalikan manusia. Pada saat itulah manusia baru sadar bahwa sesungguhnya ketidakberdayaan akan muncul dari setiap bentuk arogansi dan pengedepanan keuntungan pribadi dengan dalih kepentingan masyarakat. Maka pada akhirnya kita memang harus sadar bahwa sampai kapan pun alam dan lingkunganlah yang selalu memberi pelajaran pada kita agar kita menjadi lebih dewasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar